Blog Post

Jumat, 18 September 2015

Merajut asa "puisi kehidupan"

Merajut asa

Membelah kabut menembus pagi
Mencuri hari sebelum datangnya mentari
Udara yang menusuk sumsum terasa sampai ke hati
Seolah ingin meredakan gejolak yang ada di hati

Udara masih bersetubuh dengan embun pagi
Dan angin pun tak terlihat karna masih di buai mimpi
Tapi langkah kakiku tak mau peduli
Terus melangkah.... dan melangkah
Sesekali kusapu embun yang membasahi wajahku

Matahari pun mulai menampakan diri
Menyambut pagi dengan senyum hangatnya
Terlihat embun mulai menetes dari ujung dedaunan
Sebelum akhirnya jatuh kebumi

Merajut asa, menggapai mimpi

Mencoba menyatukan tekat dari keterbatasan diri
Bangkit dari ketidak beradaan duniawi
Melawan lelah yang selalu singgah
Abaikan penat atau asa semakin pekat

Tak terasa sang surya sudah diatas kepala
Dengan gagahnya dia menatap semesta
Sejenak kusandarkan ragaku dan bersujud pada sang Esa
Mengharap petunjuk dan kemudahan dari Nya

Mengejar mimpi sebelum senja datang
Sebelum malam menjelang
Sebelum waktunya pulang
Sebelum kembali padanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar